Gajah Tunggal : UnderValue, Brand, Market Share and Experience, Nothing To Lose mempunyai saham GJTL ? :: Good or Bad ?

Ebook Review atas Laporan Keuangan Kuartal III – Tahun 2018
November 8, 2018
Astra Otoparts : UnderValue & Ekspansi, Hingga Kebijakan Kendaraan Listrik ? :: AUTO, Good or Bad ?
December 11, 2018
Show all

Gajah Tunggal : UnderValue, Brand, Market Share and Experience, Nothing To Lose mempunyai saham GJTL ? :: Good or Bad ?

Good or Bad saham GJTL ? : Mulai dari valuasi yang telah UnderValue, memiliki merk atau Brand besar, pengalaman dan pangsa pasar yang luas hingga memiliki fasilitas R&D yang merupakan fasilitas Prestige bagi industri penghasil ban yang mana merupakan ground hi-tech pertama di Indonesia bahkan di ASEAN, maka Apakah saat ini merupakan peluang menarik untuk memiliki saham GJTL ?

 

 

[ Jika Anda sering berkunjung ke situs bullrecommend.com, pasti Anda ingat beberapa waktu lalu Penulis sempat memberikan potensi dari menariknya saham – saham pilihan yang akhirnya melejit (sebelum harga sahamnya sempat retracement ekstrem akibat panic selling effect pada awal pekan bulan Juli tahun 2018) tinggi seperti saham INKP yang bisa Anda baca [ disini ], saham ERAA yang bisa Anda baca [ disini ], saham WOOD yang bisa Anda baca [ disini ], saham SMCB yang bisa Anda baca [ disini ], saham MAIN yang bisa Anda baca [ disini ], saham ESSA yang bisa Anda baca [ disini ], saham KINO yang bisa Anda baca [ disini ] serta beberapa saham lainnya. Menariknya kali ini Penulis akan memberikan artikel terkait analisis saham GJTL di bawah ini jadi silahkan baca hingga tuntas. Jika Anda ingin baca artikel saham – saham pilihan bullrecommend.com lainnya bisa Anda baca (disini) ]

[ sebelum Anda membaca artikel soal analisis saham GJTL maka penulis menyarankan alangkah lebih baik lagi Anda membaca (artikel ini) untuk lebih memahami pentingnya mindset value investing setelah hasil analisis itu sendiri ]

Hasil analisis [terbatas] saham GJTL ini di publish via Website BullRecommend pada November 2018. Tentunya E-book review analisis saham GJTL telah di publish lebih dulu secara RealTime via email dengan versi hasil review yang tentu lebih lengkap.

 


Penulis perlu menjelaskan bahwa hasil dari kinerja yang tercermin di dalam LK 3Q18/9M18 dari saham GJTL hingga saat review ini ditulis hasilnya masih belum cukup menarik. Penulis perhatikan bahwa hasil tersebut [Baca : kinerja yang tercermin pada LK 3Q18/9M18] kurang lebih dikarenakan nilai kurs mata uang fungsional US$ yang digunakan oleh GJTL menguat terhadap IDR sebesar 10% dihitung sejak 4Q17/FY17 hingga 3Q18/9M18 [Catatan : kurs konversi IDR 13,548/US$ menjadi IDR 14,929/US$], sehingga cukup meningkatkan kerugian kurs mata uang asing sebesar 2,152% meski GJTL telah mengantisipasi dengan hedging.

Namun, karena penulis optimis valuasi saham GJTL saat ini lagi murah – murahnya dengan beberapa ekspansi cukup besar yang tidak bisa di katakan sepele serta bisnis GJTL yang kompetitif [Catatan : silahkan cari di Bursa Efek Indonesia, adakah perusahaan bisnis ban terbesar selain GJTL di Indonesia khususnya yang sahamnya listing di Bursa Efek Indonesia] maka penulis memutuskan saham GJTL sebagai saham yang layak diperhatikan atau masuk sebagai watchlist atau sebagai saham pilihan ideal saat ini.


 

GJTL atau PT. Gajah Tunggal Tbk. merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Produksi dan Perdagangan barang-barang yang terbuat dari karet, termasuk ban dalam dan ban luar segala jenis kendaraan, dan juga produsen kain ban dan karet sintesis. Sebagian besar pendapatan Perusahaan adalah dari penjualan ban di Indonesia dan luar negeri termasuk ke Amerika Serikat, Asia, Australia dan Eropa. Perusahaan tergabung dalam kelompok usaha Gajah Tunggal.

Hal yang menarik dari saham GJTL selain valuasi saham GJTL yang lagi murah – murahnya (Catatan : Bahkan tentu lebih UnderValue dari kuartal sebelumnya) adalah beberapa ekspansi cukup besar dan tidak bisa di anggap sepele. Bahkan selain ekspansi, S&P (Standard & Poor’s) mengerek rating PT. Gajah Tunggal Tbk. menjadi B- dimana sebelumnya rating produsen ban ini adalah CCC dan Moody’s menaikan rating notes GJTL menjadi B2. Hal ini berarti resiko refinancing GJTL berkurang setelah berhasil memenuhi pendanaan yang bisa dikatakan “konservatif”.

GJTL adalah satu – satunya perusahaan produsen ban yang akan memiliki fasilitas R&D atau penelitian dan pengembangan (Catatan : Proving Ground GJTL telah diresmikan oleh Menteri Perindustrian beberapa waktu lalu) di Indonesia dan ini merupakan fasilitas Prestige bagi industri penghasil ban. Fasilitas R&D GJTL ini bernilai sekitar US$ 100 juta atau 1,34 triliun dan ini merupakan ground hi-tech pertama di Indonesia dan bahkan di ASEAN.

Fasilitas tersebut juga telah dimiliki oleh negara – negara maju seperti di Jepang dan Eropa.

Perlu diketahui bahwa menurut data Bloomberg, fasilitas R&D memiliki kepentingan 70% sebagai kunci indikator ekonomi perusahaan atau manufaktur. Bahkan besaran eksport, paten dan laba perusahaan berada di urutan bawahnya.

Efek positif adanya R&D ini akan efektif mendongkrak penjualan ban khususnya penjualan ban sebagai Equipment Manufacturer / EOM ke pabrik otomotif.

Selain dari fasilitas R&D maka ada aksi korporasi GJTL lagi yang membuat penulis bisa katakan manajemen GJTL ini memang “melek” perubahan terkini. Apa itu ?, Yups sejak tahun 2017 lalu GJTL meluncurkan ban radial khusus untuk motor sport 150cc dan 250cc yang bisa digunakan untuk sepeda motor harian.

Penulis yakin Anda tahu benar jika saat ini sepeda motor dengan cc di atas 125cc atau katakanlah 150cc dan 250cc semakin banyak di keluarkan oleh beberapa pabrikan motor seperti Honda, Yamaha dan juga Suzuki.

Sebagai tambahan bahwa beberapa waktu lalu Penulis sempat melihat – lihat daftar motor roda dua berkapasitas 250cc dan hasilnya di tahun 2018 sekarang ini varian motor 250cc mulai tumbuh signifikan di berbagai merk kendaraan motor roda dua yang artinya tentu ini menjadi pangsa pasar efektif bagi GJTL khususnya produk ban berkapasitas 250cc atau setidaknya berkapsitas 150cc.

Indonesia memang menjadi pasar sepeda motor terbesar ke 3 (tiga) di dunia setelah India dan China. Jadi, pasar roda dua masih sangat menjanjikan dan hal ini dibuktikan dengan semakin inovatif model – model baru yang diluncurkan oleh para agen pemegang merek (APM) termasuk upgrade nya kapasitas mesin dari 110cc & 125cc ke 150cc & 250cc.

Hal menarik lainnya yang masih berkaitan dengan saham GJTL adalah makin murahnya harga komoditas karet alam setidaknya dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir ini [Catatan : kecuali pada beberapa kali waktu pada tahun 2016 lalu]. Harga komoditas karet alam saat ini harga nya masih cukup ideal dibandingkan 5 (lima) tahun terakhir ini dimana harga saham GJTL pun masih mampu berada di atas kisaran harga 1500/share – 2500/share pada tahun 2012 – 2014 lalu. Bahkan mulai awal tahun 2018 hingga pasca kuartal ketiga tahun 2018 ini, harga komoditas karet semakin turun atau MURAH. [Catatan : Anda bisa melihatnya via tradingeconomics.com].

[gambar – historis harga karet atau rubber via (klik) tradingeconomics]

 

Namun, meski harga komoditas karet alam semakin terjangkau, tidak demikian dengan harga karet sintetis yang merupakan turunan minyak bumi atau Crude Oil yang telah cukup meningkatkan beban sebesar 60% dari total biaya produksi. But, harusnya kenaikan beban tersebut tidak berlangsung lama dan tidak membuat kinerja GJTL terus kurang bagus.

Jadi, pada harga saham 620/share [Baca : saat ini] maka jelas sekali valuasi saham GJTL saat ini masih terbilang UnderValue atau murah dengan tingkat PBV 0,38x atau jelas dibawah 1x [Baca : satu kali]. Selain itu hingga saat ini harga komoditas karet alam tidak lebih tinggi ketimbang 5 tahun terakhir bahkan semakin turun cukup dalam sejak awal tahun 2018, tentu saja sebenarnya hal tersebut masih konservatif bagi perkembangan bisnis GJTL di bidang industri produksi ban dan olahan karet.

Perkembangan aksi korporasi terbaru di akhir tahun 2017 hingga kuartal 3 ; tahun 2018 dan menarik yang masih terus dilakukan oleh GJTL di antaranya ialah :

  • GJTL segera meningkatkan kapasitas produksi untuk produk Truck and Bus Radial (Baca : TBR) sebesar 75% per hari atau dari sebelumnya dengan kapasitas produksi 2,000 ban per hari menjadi 3,500 ban per hari, peningkatan kapasitas produksi produk ban TBR di dukung oleh fasilitas pabrik baru yang akan segera selesai pada tahun 2018 ini. Perlu diketahui bahwa beberapa produk – produk baru GJTL adalah GT Radial Champiro Eco, GTX Pro dan IRC Enviro yang keunggulannya adalah produk ramah lingkungan.
  • Ekspansi melalui pengembangan jaringan distribusi di tahun 2018 [Catatan : Coba Anda ingat soal ekspansi jaringan retail gerai ERAA yang mana harga sahamnya telah naik lebih dari 100% sejak masuk Ebook 3Q17/9M17 lalu atau sejak di harga saham IDR 700-an/share, tentu strategi ekspansi tersebut “similar” dengan bentuk salah satu strategi ekspansi GJTL] dimana GJTL akan memperkuat jaringan distribusi dengan menambah 45 outlet baru. Perlu diketahui bahwa saat ini GJTL memiliki total 195 gerai ritel ban dengan rincian 135 gerai Flagship Tirezone dan 60 gerai Flagship TireXpress .
  • Pendirian perusahaan patungan oleh GJTL dengan Inoue Rubber Co Ltd. Asal jepang berupa perusahaan baru dengan nama PT. IRC Gajah Tunggal Manufacturing Indonesia, dimana perusahaan tersebut bergerak di bidang industri manufaktur ban sepeda motor. Pada PT. IRC Gajah Tunggal Manufacturing Indonesia, GJTL berpartisipasi sebesar 50% dari total nilai investasi awal Rp. 270 miliar.
  • Penyematan merk khusus produk ban non Pasesenger Car Radial (Baca : PCR) yang diberikan untuk ban kendaraan niaga. Nama merk yang digunakan sebagai Brand Transitions GT Radial ialah Giti. Tentu saja strategi Brand Transitions ini menarik guna perluas pemasaran produk ban tersebut.
  • GJTL akuisisi PT. Filamendo Sakti sebesar 92,9% total kepemilikan pada perusahaan milik PT. Polychem Indonesia Tbk. [Baca : Perusahaan dengan kode saham ADMG] atau senilai IDR 4,55 miliar. Menariknya, aksi korporasi berupa akuisisi PT. Filamendo Sakti oleh GJTL ini sebagai bentuk upaya efisiensi biaya produksi serta guna menjaga pasokan dan kualitas utama nya bahan baku utama kain ban nilon 6. [Catatan : GJTL memiliki 25,56% saham ADMG sehingga transaksi akuisisi ini termasuk dalam transaksi afiliasi].
  • Strategi Hedging yang telah dilakukan GJTL sebelum IDR melemah terhadap US$ membuahkan hasil dan efektif menjaga hutang atau pinjaman [Baca : obligasi global] berdenominasi US$. Artinya, Global Bond senilai US$ 500 juta yang diterbitkan tahun lalu, separuhnya atau sebesar US$ 210 juta [Catatan : US$ 40 juta dalam bentuk IDR] telah dilakukan Hedging sehingga jika saat ini US$ masih menguat terhadap IDR maka hal tersebut tidak terlalu berdampak buruk pada hutang GJTL [Catatan : termasuk juga kupon obligasi GJTL] utamanya pengaruhnya terhadap kinerja hasil fundamental GJTL.
  • Ekspansi GJTL melalui optimalisasi pasar Ekspor ke Amerika dan Eropa dengan memanfaatkan peluang tarif anti dumping yang diterapkan pada produk ban dari negara China. Yups, tentu saja akan sangat menguntungkan peningkatan hasil ekspor ke kedua negara tersebut. Selain itu, menariknya GJTL di dukung oleh Kementerian Perdagangan untuk masuk ke pasar Afrika ! [Catatan : GJTL mulai masuk di Tunisia dan Maroko], artinya pangsa pasar GJTL semakin luas dan tentu dukungan Pemerintah merupakan “Jaminan Eksternal” positif bagi perkembangan bisnis GJTL. Masih ragu dengan GJTL kedepannya ?, Let’s see …

Selebihnya hingga pasca kuartal 3 ; tahun 2018 belum ada Perkembangan aksi korporasi terbaru dan menarik yang dilakukan oleh GJTL serta perlu untuk Penulis sampaikan.

Harga saham GJTL masih juga belum “kemana – mana” bahkan masih retracement ekstrem [Catatan : belum naik mendekati valuasi wajarnya hingga review 3Q18/9M18 ini ditulis] sejak beberapa waktu lalu, padahal tindakan aksi korporasi ekspansif terus berkembang dan tentu saja [harusnya] ada peluang kedepannya bagi harga saham GJTL untuk segera menyesuaikan setidaknya ke valuasi wajarnya.

Khusus untuk saham GJTL ini, para Pembaca bisa kembali membaca poin – poin di atas atau di awal yang sebelumnya Penulis sampaikan dimana mengenai Laporan Keuangan di kuartal terbarunya saat ini belum menunjukkan atau mencerminkan Recovery Fundamental dan beberapa poin lainnya.

Singkatnya, Penulis masih harus memberikan “kesempatan” adanya perkembangan untuk kinerja saham GJTL di kuartal selanjutnya hingga nantinya Penulis bisa lakukan disclousure review nya.

So, pertimbangkan baik – baik. Harusnya sepadan dengan kinerja dan valuasinya [Baca : UnderValue] saat ini yang artinya tetap saja Nothing To Lose untuk memiliki saham GJTL saat ini, mengingat berbagai aksi korporasi GJTL berupa ekspansi yang tidak bisa di anggap sepele, valuasi saham GJTL yang jelas masih UnderValue di saat GJTL tengah melakukan ekspansi berupa penambahan gerai, pendirian perusahaan patungan dan beberapa aksi korporasi ekspansi lainnya, masih murahnya harga komoditas karet alam setidaknya dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir dimana pada awal tahun 2018 hingga pasca kuartal 3 ; tahun 2018 harga komoditas karet alam semakin turun cukup tajam, semakin banyaknya pangsa pasar ban motor dengan mesin berkapasitas besar serta semakin luasnya pangsa pasar negara tujuan ekpor produk ban GJTL. Namun, apakah nantinya saham GJTL akan menjadi saham yang dapat memberikan hasil investasi yang bagus / GOOD atau buruk / BAD ? dan apakah harga saham GJTL akan mampu naik cukup tinggi dari harga sahamnya saat ini ? Let’s see the market !

Selebihnya tunggu LK kuartal selanjutnya atau LK akhir tahun 2018 untuk melihat ada atau belum adanya recovery fundamental pada saham GJTL.

setelah tahu beberapa poin signifikan mengenai saham GJTL seperti yang telah di uraikan di atas, apakah saham GJTL menarik untuk di akumulasi BELI ?.

(Jawaban atas semua hasil analisis pertanyaan ini telah Kami publish via Telegram BullRecommend LS).

Kenapa analisis dalam kaidah value investing ini penting ?. Karena hal ini menjadi acuan utama atas keputusan penting dalam membeli suatu saham.

Jika nanti harga suatu saham yang telah memenuhi kriteria saham Value Investing (pada Harga BELI tertentu) ini nantinya mungkin terjadi retracement atau penurunan tajam, sebagai value investor hal ini di pandang sebagai bentuk moment “Salah Harga” dan tentu nya dapat dilakukan kesempatan untuk melakukan aksi BELI dan bukan hanya BINGUNG, GALAU ataupun PANIK mengikuti kata pelaku pasar yang tidak memiliki “acuan hasil analisis komprehensif” dalam pengambilan keputusan untuk BELI suatu saham yang memang MENARIK.

( Hanya ada di Telegram BullRecommend LS, Let’s JOIN Us ! – value investing indonesia BullRecommend )

Share hasil analisis beberapa saham terbaik(Sesuai kaidah Value Investing) di website BLS baru Kami lakukan terbatas. Hal ini untuk menjaga Ekslusivitas Anggota/Member BulRecommend LS.

Jika Anda cocok dengan Value Investing ala BullRecommend dan ingin mendapatkan hasil analisis BullRecommend LS lebih lengkap seperti di atas untuk saham – saham berpotensi lainnya, silahkan JOIN dengan BullRecommend LS. Klik REGISTRASI —> (di sini)

Anda akan mendapatkan berbagai fasilitas berikut, Klik —> (di sini)

Beberapa Charting TrendFollower NOT SwingTrading bisa Anda lihat disini : Klik —> (di sini)

Apakah Anda cocok dengan Value Investing BLS ?. Klik —> (di sini)

Apa itu Value Investing BullRecommend ?. Klik —> (di sini)

Profil dari BullRecommend. Klik —> (di sini)

Value Investing Indonesia BullRecommend !

NB : Beberapa sumber (Berita Terkait) diolah dari berbagai media

 

 

 

 

 

(Visited 1,099 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *